Wild West Gold Rp 18 Juta Menjadi Modal Budidaya Lele di Lamongan
Di pelosok Lamongan, seorang lulusan SMK memutuskan memulai usaha budidaya lele skala rumahan. Dengan modal Rp 18 juta, ia membangun kolam terpal bundar sistem bioflok, menyiapkan peralatan aerasi, menyusun SOP pakan dan kualitas air, sekaligus merancang strategi pemasaran yang sederhana namun konsisten. Kisah ini menunjukkan bagaimana modal terbatas bisa diolah menjadi usaha yang terukur, berulang, dan berkelanjutan.
Dari Lahan Sempit ke Produksi Ikan Konsumsi
Lamongan dikenal sebagai salah satu sentra kuliner ikan. Permintaan lele konsumsi relatif stabil—dari warung pecel lele, katering, hingga pedagang sayur keliling. Sang pemuda melihat peluang itu dan memilih sistem bioflok karena cocok untuk lahan sempit, hemat air, dan padat tebar yang lebih tinggi daripada kolam tanah. Ia memanfaatkan halaman belakang 4×6 meter untuk menaruh dua kolam terpal bundar dan satu tandon air, cukup untuk memulai tanpa harus menyewa lahan.
Tujuannya sederhana: menghasilkan panen yang konsisten 2–3 bulan sekali dengan mortalitas rendah. Ia belajar dari kanal YouTube peternak lokal, modul dinas perikanan, dan obrolan di grup Facebook pembudidaya. Catatan harian—suhu air, pH, warna floc, dan jumlah pakan—menjadi senjata utamanya menjaga konsistensi.
Alokasi Modal: Fokus ke Kolam, Aerasi, dan Benih
Dari Rp 18 juta, sekitar Rp 7–8 juta dialokasikan untuk dua kolam terpal bundar diameter 2,5–3 meter (rangka galvanis/kerangka besi ringan, terpal A10/A12, pipa inlet–outlet, dan keran). Rp 3–4 juta untuk sistem aerasi: blower 120–150W, pipa paralon, selang aerasi, dan batu aerasi (air stone) yang disebar merata agar oksigen terlarut stabil. Rp 1,5–2 juta untuk tandon air 1.000 liter plus filter sederhana (spons/bioball) sebagai persiapan pergantian air parsial.
Sisanya dipakai untuk benih (ukuran 5–7 cm, padat tebar 800–1.000 ekor per kolam), pakan awal (pallet protein 30–32% untuk fase starter–grower), probiotik/aktivator bioflok (molase, ragi/EM4 perikanan), alat ukur pH/DO sederhana, jaring panen, ember sortir, dan timbangan digital. Ia juga menyiapkan dana cadangan kecil untuk listrik 2–3 bulan pertama dan keperluan tak terduga seperti penggantian air stone atau tambal terpal.
Membangun Bioflok: Stabilkan Dulu, Tebar Kemudian
Kesalahan pemula yang sering terjadi adalah terburu-buru menebar benih. Ia justru memulai dari menyiapkan “budidaya air”: mengisi kolam, menambahkan molase dan aktivator, memberi aerasi kuat, lalu membiarkan 5–7 hari hingga terbentuk flok (air kecokelatan, tidak berbau busuk). Tujuannya membangun komunitas mikroba yang akan membantu mengikat amonia, menstabilkan kualitas air, dan menjadi pakan tambahan alami.
Saat benih datang, ia melakukan aklimatisasi perlahan—kantong benih diapungkan 15–20 menit agar suhu menyatu, lalu air kolam dimasukkan sedikit demi sedikit ke kantong. Setelah tebar, aerasi ditambah pada malam hari untuk menjaga DO. Dua hari awal, pakan diberikan sangat sedikit agar benih beradaptasi tanpa lonjakan amonia.
Manajemen Pakan dan Kualitas Air
Pakan menyerap biaya terbesar, jadi efisiensi menjadi kunci. Ia menyusun jadwal 3–4 kali sehari, menakar pakan berdasarkan bobot biomassa (mulai 3–5% dan menurun bertahap). Indikasi kenyang dilihat dari respons di permukaan: jika reaksi melambat, pemberian dihentikan agar sisa pakan tidak mencemari kolam. Ia juga menerapkan “feeding window” 10–15 menit supaya pakan termakan efektif.
Kualitas air dipantau sederhana: pH ideal 6,5–7,5; DO dijaga dengan blower nonstop; warna flok cokelat kehijauan berarti aktif. Jika air menghitam dan berbau, ia melakukan pengurangan air 10–15% lalu menambah air baru secara bertahap. Setiap minggu, dasar kolam disifon ringan untuk mengurangi padatan. Dengan catatan konsisten, ia bisa membaca pola: kapan nafsu makan naik, kapan flok perlu “disegarkan”.
Pengendalian Penyakit dan Mortalitas
Mortalitas tinggi sering terjadi di minggu awal. Ia menekan risiko dengan karantina benih singkat (perendaman garam ikan dosis ringan), memastikan aerasi kuat, dan menjaga kebersihan jaring. Gejala stres—berenang megap-megap di permukaan, warna pucat—ditangani dengan menurunkan padat tebar melalui sortir, memperkuat aerasi, dan menurunkan pakan sementara. Ia menghindari obat kimia keras; fokusnya pada perbaikan lingkungan air.
Saat ukuran rata-rata mencapai 7–9 cm, benih yang tumbuh lambat dipisahkan (grading) agar kompetisi pakan berkurang. Grading rutin 3–4 minggu sekali membantu pertumbuhan seragam sehingga panen lebih kompak dan mudah dipasarkan.
Proyeksi Panen dan Perhitungan Sederhana
Dengan dua kolam dan total tebar 1.600–2.000 ekor, target panen 2–3 bulan pada ukuran konsumsi 7–9 ekor/kg. Bila survival rate 80–85% tercapai, estimasi produksi 180–220 kg per siklus. Dengan asumsi harga jual ke pengepul/warung Rp 20.000–22.000/kg (bisa berbeda tiap wilayah), omset per siklus berkisar Rp 3,6–4,8 juta per kolam. Laba bersih sangat dipengaruhi FCR (Feed Conversion Ratio): ia menargetkan FCR 1,1–1,3 dengan disiplin pakan dan aerasi yang baik.
Untuk menjaga arus kas, ia mensikluskan kolam—tebar selang 4–6 minggu—agar panen tidak terjadi bersamaan. Skema ini menjaga pemasukan lebih stabil dan memudahkan manajemen kerja harian.
Pemasaran: Dari Tetangga ke Rumah Makan
Jalur pemasaran dimulai dari yang paling dekat: tetangga kompleks, pedagang sayur keliling, dan warung pecel lele lokal. Ia menghubungi beberapa rumah makan lebih besar untuk skema langganan mingguan. Untuk menaikkan margin, sebagian hasil dijual ecer “lele hidup kiloan” di akhir pekan melalui status WhatsApp dan grup RT, lengkap dengan tips bersih & bumbu sederhana.
Ia juga menyiapkan kemasan sederhana untuk lele bersih (disiangi) dengan es—opsi bagi pembeli yang ingin praktis. Foto panen, video pendek aerasi malam hari, dan catatan ukuran aktual diposting rutin sebagai bukti kualitas. Konsistensi suplai menjadi daya tarik utama untuk pembeli skala kuliner.
Manajemen Risiko dan Skala Usaha
Risiko utama: mati listrik, lonjakan suhu, dan hujan berkepanjangan. Untuk itu, ia menyediakan aerator DC cadangan dan UPS kecil untuk blower beberapa jam darurat. Penutup kolam (paranet) dipasang agar suhu tidak ekstrem di siang hari dan mengurangi masuknya daun/kotoran saat hujan deras.
Setelah dua siklus berhasil, ia merencanakan penambahan satu kolam lagi, khusus untuk pembesaran cepat dengan padat tebar moderat. Ia juga mulai menabung untuk timbangan gantung dan alat DO meter yang lebih akurat. Ekspansi dilakukan bertahap—mengutamakan stabilitas operasional dibanding mengejar kapasitas besar secara tiba-tiba.
Pelajaran Kunci dari Siklus Pertama
Beberapa hal terbukti krusial: (1) sabar menstabilkan bioflok sebelum tebar; (2) aerasi yang kuat menyelamatkan banyak masalah; (3) catatan harian membantu mengambil keputusan pakan dan pergantian air; (4) grading mengurangi kanibalisme dan mempercepat keseragaman. Dengan empat disiplin ini, mortalitas menurun dan panen lebih tenang.
Pada akhirnya, Rp 18 juta hanyalah pemantik. Nilai sesungguhnya ada pada kebiasaan merawat—air, pakan, dan waktu. Dari halaman belakang yang sempit, lahirlah usaha yang memberi penghasilan, meningkatkan keterampilan teknis, dan menjadi harapan baru bagi keluarga di Lamongan.
Copyright © 2025 • KABAR UMKM
